…sepertinya tulisan ini akan mengarah kearah kenangan-romantisme-sentimentil nan dramatis sama mantan…
Setahun di Malang dalam kondisi under-pressure-akut membawa saya kembali ke kota ini_Jember yang Tertib, Bersih, Indah, dan Aman a.k.a Jember Terbina. Kalo dihitung mulai dari SMA sampe sekarang kurang lebih udah tujuh tahun saya numpang hidup disini. Nah, kalo kata orang umur 15-21 tahun itu masa remaja, artinya saya melewati masa remaja di kota ini. Saya mulai naksir cowok, first love sama cowoknya cewek lain [tragis!], mulai ngerti dandan [korban malpraktek mbak-mbak kost, huwwaa…], mulai berani pacaran [ehm…], mulai berani pulang malem [inget mukanya ibu kost…ngeri!], juga mulai coba-coba bolos sekolah&les… whoaa, masa-masa khas remaja itu…
Cerita tentang Jember memang tidak bisa lepas dari seseorang yang sekarang saya sebut “mantan”. Enam tahun dari total tujuh tahun tinggal di kota ini, saya jalani bersamanya. Bukan waktu yang sebentar memang, tapi saat ini saya merasa enam tahun sesingkat kedipan mata. Saat semua kisah saya&mantan berakhir, yang saya inginkan hanyalah pergi sejauh mungkin dari kota ini. Sepertinya waktu itu saya terjangkit “broken heart syndrome”, dengan gejala: takut keluar kosan [ehm, menyadari kelakuan mantan yang agak diluar batas jadi lebih aman stay at home saja], merasa Jember jadi aneh&sumpek [ya iyalah, orang dikosan mulu. Apalagi kalo kamu menghabiskan enam tahun bersama seseorang di Jember yang jalan2&tempat2 cuma itu-itu aja, pasti kamu merasa kayak gitu], ga doyan maem [tapi ngemil mulu, hehe], suka tiba-tiba nangis kalo inget mantan [sebenci-bencinya, kangen itu kadang emang ga tau diri &ga tau waktu], ga berhenti buat menyalahkan diri sendiri [“why me, God? why?”]. Ough! So menye-menye pokoknya, Bollywood banget dah [tanpa joget-joget, sumpah!]… tapi itulah proses sakit hati yang harus saya lewati. Dan entah kenapa sangat saya nikmati, saya rasakan sungguh-sungguh...”tuh Dya, kayak gini rasanya sakit hati itu! Ga enak kan? Sakit kan? Nah, nikmati tuh! Nangis aja sepuasmu! Rasain bener-bener! Inget-inget gimana rasanya! Biar kamu tau, biar kamu inget, biar kamu bisa ngerti… jadi kamu bisa belajar dari sini, jangan ulangi lagi kesalahan yang sama! Cinta sama bodoh itu bedanya tipiss banget…”.
Well, setelah masa-terpuruk-terjatuh itu terlewati Jember jadi kembali Tertib, Bersih, Indah, dan Aman…saya ga menyesal tinggal disini, saya ga menyesal waktu itu memilih untuk kembali lagi ke kota ini. “Alasan saya memilih untuk kembali ke kota ini adalah kamu, dan…itu pada awalnya saja. Karena seiring berjalannya waktu, saya jadi tahu bahwa segala hal yang terjadi dalam hidup ini_sekecil-seremeh-secuil-apapun-itu_ada karena suatu alasan besar yang harus saya cari tahu”.
Apa jadinya kalo saya ga di Jember…mana mungkin saya ketemu mbak-mbak kost yang kayak sodara sendiri [mbak pha, mbak yan, mbak vit, mbak rit, mbak ka, mbak bhek, sept], ketemu teman yang bukan sekedar teman satu es-em-a [dc, mug, nan], ketemu teman kerja yang mengijinkan saya menjadi bagian timnya [ky, nda, sep, yunk, mbak yun, mbak tiw, mas chem, mas ron, fid, pak kam], ketemu teman yang lebih dari sekedar teman sekampus [ndutz, uu, po, tha, ly, vit, ndie]. Berbagi kisah, ilmu, pengalaman, tawa, tangis, sakit, marah, bahagia, harapan, keinginan… dan apalagi yang bisa saya katakan kecuali: ”terima kasih, teman…”.
Saya selalu merasa Jember [juga] rumah saya…tempat melewati sebagian fase perjalanan hidup saya…untuk berproses, belajar, berbagi, berharap, berusaha, bermimpi…
Dan sekarang, ini yang ingin saya katakan:
“…karena ini bukan tentang kamu saja.”
Love Dya


